Langsung ke konten utama

[Resensi] Matahari: Petualangan Menuju Klan Canggih di Perut Bumi

Judul Buku : Matahari
Pengarang : Tere Liye
Genre : Petualangan
Tebal : 390 halaman
Tahun Terbit : 2016
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Keterangan : Matahari merupakan buku ketiga setelah Bumi dan Bulan sebagai buku pertama dan kedua. Buku keempat yang akan menyusul terbit adalah Buku Bintang.

Buku Matahari Tere Liye
Raib (Klan Bulan), Seli (Klan Matahari) dan Ali (Klan Bumi) adalah tokoh sentral dalam novel. Mereka merupakan remaja petualang yang mengalahkan keserakahan para penguasa klan. Dalam novel ini, diceritakan bahwa mereka bertiga “berlibur” ke Klan Bintang. Pada buku sebelumnya, Klan Bintang hanya disebut sebagai legenda-suatu klan yang antah berantah entah di mana. Alilah yang membuat klan legenda tersebut menjadi dapat terjamah. Berkat keingintahuannya yang tinggi, Ali menemukan cara untuk memasuki klan terjauh dari dunia pararel ini. Disebut terjauh karena Klan Bintang tidak simultan dengan Klan Bumi, Bulan dan Matahari di permukaan. Klan Bintang berada di perut bumi.

Klan di dunia pararel mempunyai kelebihan masing-masing. Klan Bulan mempunyai kemampuan menghilang, Klan Matahari bisa mengeluarkan petir, tapi Klan Bintang tidak mempunyai kekuatan-kekuatan itu, penduduk mereka hanyalah ilmuwan tanpa kekuatan istimewa. Klan ini menjadi tempat terbaik untuk bertualang bagi Ali-si  “ilmuwan” dari Klan Bumi.

Petualangan di Klan Bintang berlangsung menegangkan sebagaimana kisah di Klan Bulan atau Klan Matahari. Raib, Seli dan Ali terjebak dan ditahan oleh Dewan Kota Zaramaraz (Ibukota Klan Bintang) akibat petualangannya di Klan Bintang. Mereka ditahan karena dianggap ancaman. Pada akhirnya mereka bisa membebaskan diri menggunakan buku kehidupan milik Ra juga berkat bantuan Faar (Ratu Lembah di Klan Bintang) dan Kaar (Chef terkenal di Klan Bintang). Petualangan diakhiri dengan teka-teki baru. Mereka mempunyai informasi bahwa enam bulan yang akan datang, tiga klan di permukaan akan mengalami kehancuran melalui gempa bumi. Hanya kota Zamaramaz di Klan Bintanglah yang akan selamat.

Kelebihan buku ini adalah buku petualangan sarat pesan moral. Raib-Seli-Ali adalah remaja yang menetapi janji, pemberani, selalu ingin tahu, menjaga persahabatan dan tulus dalam melakukan sesuatu. Inilah kelebihan buku yang sangat pas digunakan sebagai senjata “memperbaiki” moral remaja di Indonesia.

Kelebihan lainnya, kita akan dibuat untuk menikmati keteraturan Klan Bintang yang fanatik terhadap sesuatu yang simetris (simetric fanatic). Hal ini saya sebut sebagai kelebihan, karena fantasi kita dibuai oleh imajinasi penulis yang lucu. Simetric fanatic dari Klan Bintang menjadi lucu ketika itu terbawa dalam penamaan tokoh, misalnya: Faarazaraaf. Haha, sejenak saya tertawa membaca jenakanya ide nama yang simetris dari penulis. Kelebihan lain dari seri petualangan milik Tere Liye adalah penjelasan ilmiah yang mudah dimengerti untuk menjawab beberapa hal yang abnormal (walaupun kemudian hal ini menjadi kelemahan juga).

Mengenai kelemahan buku, saya sebagai pembaca sering merasa deja vu dengan penokohan penulis yang mirip penokohan di novel Harry Potter. Hal ini cukup mengganggu karena pada akhirnya saya selalu ingin membandingkan karya penulis dengan karya J.K Rowling. Penokohan Raib, Seli dan Ali sudah ibarat Harry, Ron dan Hermione. Betapa tidak, Raib mirip Harry Potter yang sangat sentral dan mempunyai kekuatan terbanyak. Hal tersebut menjadi sangat mirip saat tokoh utama selalu memiliki keragu-raguan tentang kekuatannya. Harry dalam Harry Potter juga begitu. Ditambah lagi, Seli sebagai tokoh sentral sekunder mirip Ronald Weasley-memiliki kekuatan dan sebagai penengah cerita- dan Ali si jenius dari klan terendah (Klan Bumi) sangat mirip dengan si jenius Hermione sebagai mudblood atau makhluk terendah di dunia sihir.

Kelemahan selanjutnya, Saya sebagai awam kadang mengerutkan dahi atas penjelasan mengenai kecanggihan Klan Bintang yang diilmiahkan, contohnya: Lembah Ratu Faar selalu pagi tapi bioritme klan tidak terganggu karena hal ini; Gen panjang umur Ratu Faarazaraaf; dan inkonsistensi cerita Raib yang bisa menghilang kemudian tidak bisa menghilang di satu cerita lainnya. Terlepas masuk akal atau tidak, saya menikmati petualangan mereka.

Hal yang menjadi kelemahan di buku ini kemudian adalah cerita yang mudah ditebak, ini dikarenakan kita sudah terbiasa dengan pola penulis di buku pertama dan kedua. Satu hal lagi tentang kelemahan, ada beberapa salah ketik dalam novel. Dari sekian salah ketik, yang paling fatal adalah kesalahan penyebutan tokoh, dari harusnya “Ily” menjadi “Ilo”. Di halaman 18 paragraf 6 baris kedua terdapat kalimat: “Av tidak bisa menghidupkan Ilo”, padahal yang harus dihidupkan adalah Ily, sedangkan Ilo adalah ayah Ily- yang masih hidup.

Terakhir, Saya simpulkan buku yang tebalnya sedang ini bisa membuat adiktif pembacanya. Setelah sampai di episode 30, kita ingin mencari tahu dengan segera bagaimana kelanjutan kisah 3 remaja ini. Seolah episode bertualang di Klan Bintang menjadi pelengkap puzzle dari cerita-cerita sebelumnya dan menjadi potongan penting untuk kelanjutan ceritanya. Di Buku Matahari, dijelaskan enam bulan yang akan datang, dunia pararel terancam hancur. Membuat tidak sabar para penunggu Buku Bintang saja. (*Ajeng Dalli Alamiah, 2016)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Novel] Hujan: Esok, Lail dan Bahtera Penghindar Bencana Iklim

Tere Liye selalu membahas tentang perasaan sebagai sesuatu yang terhormat dalam novel-novelnya. Kali ini saya bicara tentang novel Hujan. Tebalnya 318 halaman. Terbit Januari 2016. Sejak musim hujan Januari Saya dianjurkan membaca novel ini, tapi sayangnya baru sempat sekarang. Komentarnya: novel hujan keren. Novel bersampul biru ini membahas duka dari bencana, persahabatan, kehormatan perasaan, sains, dan membahas tentang iklim serta teknologi di tahun 2050-an dengan cara khas Tere Liye. Novel Hujan Tere Liye Lepas dari beberapa aspek tadi, Saya selalu terhangatkan oleh Tere Liye yang membahas perasaan antara dua orang. Satu kata, perasaan selalu mempunyai posisi yang terhormat. Saling tahan, saling merindukan dan bertemu di ending dalam ikatan pernikahan. Ahh... sebenarnya setting tentang masa depan yang berteknologi tinggi lebih menarik dibanding tentang perasaan. Tapi, ya di usia saya, Saya lebih senang membahas perihal itu. Haha... Oiya, Kenapa berjudul hujan? ...

[Novel] Rindu: Novel dengan Lima Pemeran Utama

Gue -si pembaca setia novel Tere Liye- ingin mengemukakan pikiran yang berkecamuk ini. Setelah dua bulan (kurang dua minggu), akhirnya novel rindu setebal 544 halaman tiba di epilog juga. Setelah menamatkannya, pikiran ini harus segera bertemu dengan laptop dan kutuliskan isi kepala seperti Gurruta yang menuliskan pikirannya dengan pena dan kertas miliknya ( mhehehe) . Pertama-tama, sejak bab awal kita sudah bisa merasakan taste daripada sang penulis. Untuk ukuran Tere Liye, berikut isi pikiran Gue.   Tere Liye amat menyukai anak-anak Hal ini bisa   gue rasakan di novel-novel tebalnya. Contoh: Anggrek dan Jasmine di novel Sunset Bersama Rossie. Kali ini sama persis, Tere Liye menceritakan sosok anak kecil yang cerdas nan ceria, yaitu Anna dan kakaknya Elsa. Gue tebak sih anak Tere Liye secerdas dan seimut tokoh-tokoh di novelnya, secara... tidak ada orang tua yang bisa tahan untuk tidak mempublikasikan kelucuan-kelucuan anaknya (Ajeng, 2016 :D). Untuk ukuran Tere Liy...