Gue -si pembaca setia novel Tere Liye-
ingin mengemukakan pikiran yang berkecamuk ini. Setelah dua bulan (kurang dua
minggu), akhirnya novel rindu setebal 544 halaman tiba di epilog juga. Setelah
menamatkannya, pikiran ini harus segera bertemu dengan laptop dan kutuliskan
isi kepala seperti Gurruta yang menuliskan pikirannya dengan pena dan kertas
miliknya (mhehehe).
Pertama-tama, sejak bab awal kita
sudah bisa merasakan taste daripada sang penulis. Untuk ukuran Tere Liye,
berikut isi pikiran Gue.
- Tere Liye amat menyukai anak-anak
Hal ini
bisa gue rasakan di novel-novel tebalnya.
Contoh: Anggrek dan Jasmine di novel Sunset Bersama Rossie. Kali ini sama
persis, Tere Liye menceritakan sosok anak kecil yang cerdas nan ceria, yaitu
Anna dan kakaknya Elsa. Gue tebak sih anak Tere Liye secerdas dan seimut tokoh-tokoh
di novelnya, secara... tidak ada orang tua yang bisa tahan untuk tidak
mempublikasikan kelucuan-kelucuan anaknya (Ajeng, 2016 :D). Untuk ukuran Tere Liye
yang enggan pamer, Dia menunjukkan sisi ke-bapak-annya lewat tokoh anak kecil di
novelnya.
- Tere Liye selalu memunculkan tokoh bijak
Seperti yang
pernah Gue baca di novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah (KADSAM), di setiap
perjalanan kisah pastilah ada sosok yang memberikan benang merah untuk setiap masalahnya.
Dalam novel KADSAM, Kakek Tua selalu berkata dan
menasehatkan terhadap si tokoh utama bahwa cinta adalah perbuatan. Dalam novel
Rindu kali ini, Ahmad Karaeng yang adalah Gurutta selalu memberikan dalil dan
bijak menjawab semua permasalahan.
Dari sana Gue
menyimpulkan, Tere Liye itu sendirilah yang menjadi seseorang bijak dalam
setiap masalah kusut. Ironinya, dalam novel ini Gue temukan pengakuan Tere Liye,
bahwasanya orang paling bijaklah yang sejatinya munafik. Selalu bisa menjawab
pertanyaan orang lain, tapi tak sadar bahwa dia tak mampu menjawab pertanyaan
dirinya sendiri.
- Tere Liye menyampaikan ajaran agama
Setiap novelnya
membawakan pesan. Itu adalah satu hal yang pasti. Dari sekian novel romance,
tak pernah ada perasaan norak yang diumbarkan tokohnya. Yang ada hanyalah
perasaan malu saat jatuh cinta, memperbaiki diri, dan mengikhlaskan untuk
kemudian bersabar agar bertemu akhir yang sesuai skenario terbaik Allah. Nah kisah
Ambo Uleng dalam rindu inilah yang paling Gue penasarani. Kebetulan Gue lagi patah
hati. Gumam hati, “Semoga Gue terobati layaknya tokoh utama akan bahagia
pada akhir cerita”. Daaaan... epilog
dari novel ini sangat membahagiakan (walaupun agak kebetulan). Ternyata si Ambo adalah
orang yang dijodohkan dengan pujaan hatinya. Ya...tak jauh lah dari cerita
cinta antara Tegar dan Rossie... yang mengharu biru di awal, namun bertemu
dengan ending manis pada akhirnya. TERE LIYE SELALU MENEKANKAN BAHWA
CINTA DAN JODOHPUN ADALAH PROSES PERBAIKAN DIRI DAN CERMINAN LEVEL MASING-MASING
TOKOH. Nah, pada akhirnya, Gue si pembaca yang sedang galau ini menatap cermin,
kemudian berazzam, “Oke, baiklah. Semoga Gue bisa istiqomah memperbaiki
diri.” Aamiinkan dong pembacaaa... (mhehehe)
- Wawasan Tere Liye amat luas
Dari Novel
rindu, Gue semakin paham bahwa tak usah lah kita pamer kita kemana dan
membanggakannya di media sosial, toh ternyata Tere Liye itu sangat hebat.
Pernah ke sana ke mari, tapi tidak pernah tuh pamer sana sini juga. Yang ada, Dia
tahu ini dan itu dan menuturkannya di setiap novelnya. Beberapa contoh bisa
diambil di setting novel rindu. Dia menuturkan suasana Pare-pare, Bugis,
Surabaya, Batavia, Aceh, Kolombo dan Somalia dengan apik. Bukan berarti Dia pernah ke sana juga sih. Tapi ya... apik aja gitu. Dan Gue yakin hal ini sudah pasti
melalui survei panjang .
The last...
Gue mau bikin
sinopsis buat diri Gue sendiri. Berhubung Gue punya amnesia kecil dan Gue
orangnya pengenang banget.
SINOPSIS
Judul Novel:
Rindu
Tebal Halaman:
544 Hal
Penulis: Tere
Liye
Beli: 13 Juni
2016
Beres Baca:
29 Agustus 2016
Tokoh-tokoh:
Daeng Andipati dan Istrinya, Anna, Elsa, Dua anak lai-laki kembar yang
belakangan lahir, Gurutta Ahmad Karaeng, Syekh Raniri, Cut Keumala, Ambo Uleng,
Bonda Upe dan Suaminya, Mbah Kakung-Mbah Putri dan Anak sulungnya,
Sorjaningrat, Mangoenkusumo, Sergeant Lucas, Kapten Phillips, Chef Lars,
Serdadu yang menerima Iga, dan lain-lain.
![]() |
| Novel Rindu-Tere Liye |
Isi:
Novel tentang
perjalanan haji pada tahun 1938-an. Berlayar menaiki kapal Blittar Holland
untuk sampai ke Jeddah setelah 30 hari perjalanan panjang yang dinamai
perjalanan kerinduan. Selama Kisah itu diceritakan, ada 5 pertanyaan besar dari
5 tokoh urgent penumpang kapal.
1) Bonda Upe yang merupakan mantan cabo (pelacur) dan pertanyaan tentang naik hajinya. Jawabannya adalah dalil tentang Pelacur yang memberi minum anjing dan kemudian masuk surga; 2) Daeng Andipati yang terlihat sempurna dari segala aspek kehidupan, tapi menyimpan kebencian yang mendalam terhadap bapaknya dan kemudian dijawab dengan kebencian hanyalah ketidakmampuan diri kita untuk mengubah seseorang yang kita benci; 3) Mbah Kakung yang ditinggal mati oleh Mbah Putri di perjalanan haji yang sudah sekian lama mereka berdua cita-citakan. Kepedihan itu dijawab dengan seucap kesimpulan, bahwa memandang kepergian harus dari kacamata yang berbeda, anggap bahwa skenario Allah adalah skenario terbaik; 4) Cinta sejati Ambo Uleng. Ambo Uleng orang yang baik hati, pekerja keras dan pecinta sejati. Pada akhirnya, jodoh ya jodoh. Patah hati hanya boleh dilalui dengan proses memperbaiki diri; 5) Tentang kemunafikan (Bagian ini yang bikin Gue paling terenyuh). Di kisah ini Gue tertampar gitu saat seorang terbijak dan tersoleh sekalipun, mengalami kekecewaan terhadap dirinya sendiri. Ceritanya, Gurutta takut untuk melakukan (secara nyata) tentang apa yang ditulisnya selama perjalanan, yaitu memperjuangkan kemerdekaan. Tapi akhirnya, beliau berani melakukan jihad melawan hal yang dibenci dengan cara tingkatan tertinggi, yaitu menumpas kebatilan melalui perbuatan. Hal ini merupakan jawaban untuk pertanyaan tokoh bijak yang merasa munafik yang tidak lain didapatkan dari tokoh Ambo Uleng.
1) Bonda Upe yang merupakan mantan cabo (pelacur) dan pertanyaan tentang naik hajinya. Jawabannya adalah dalil tentang Pelacur yang memberi minum anjing dan kemudian masuk surga; 2) Daeng Andipati yang terlihat sempurna dari segala aspek kehidupan, tapi menyimpan kebencian yang mendalam terhadap bapaknya dan kemudian dijawab dengan kebencian hanyalah ketidakmampuan diri kita untuk mengubah seseorang yang kita benci; 3) Mbah Kakung yang ditinggal mati oleh Mbah Putri di perjalanan haji yang sudah sekian lama mereka berdua cita-citakan. Kepedihan itu dijawab dengan seucap kesimpulan, bahwa memandang kepergian harus dari kacamata yang berbeda, anggap bahwa skenario Allah adalah skenario terbaik; 4) Cinta sejati Ambo Uleng. Ambo Uleng orang yang baik hati, pekerja keras dan pecinta sejati. Pada akhirnya, jodoh ya jodoh. Patah hati hanya boleh dilalui dengan proses memperbaiki diri; 5) Tentang kemunafikan (Bagian ini yang bikin Gue paling terenyuh). Di kisah ini Gue tertampar gitu saat seorang terbijak dan tersoleh sekalipun, mengalami kekecewaan terhadap dirinya sendiri. Ceritanya, Gurutta takut untuk melakukan (secara nyata) tentang apa yang ditulisnya selama perjalanan, yaitu memperjuangkan kemerdekaan. Tapi akhirnya, beliau berani melakukan jihad melawan hal yang dibenci dengan cara tingkatan tertinggi, yaitu menumpas kebatilan melalui perbuatan. Hal ini merupakan jawaban untuk pertanyaan tokoh bijak yang merasa munafik yang tidak lain didapatkan dari tokoh Ambo Uleng.
TERAKHIR DAN
PALING PENTING
Tere Liye
memperhatikan mengenai proses pendidikan. Gue rasain banget dia menekankan
bagaimana harusnya proses belajar berlangsung, yaitu dengan metode Contextual
Teaching and Learning. Dalam novel rindu dia ceritakan lewat pedagoginya Mangoenkusumo
dan Soerjaningrat saat mengajar Anna Elsa.
Terakhir, suer ini terakhir.
Tere Liye...
makasih udah libatin guru sebagai tokoh keren dalam novel. Ayeeeeeee....

Komentar
Posting Komentar